SWARA NON-MUSLIM

Blog ini di-dedikasikan bagi kalangan non-muslim Indonesia!


Muslim Kosovo Murtad Massal

Masyarakat Kosovo dan Agama Katolik
oleh Anna Di Lellio



May 21 2008, gelombang murtad dari agama Islam di Kosovo menimbulkan pertanyaan. Apakah ini hanya demi niat ingin masuk Uni Eropa, atau ada alasan lebih mendalam?

Negara Eropa termuda, yakni Kosovo, dikenal dengan masyarakat mayoritas Islam sekuler yang sangat suka minum bir dan minuman keras lokal bernama raki, dan sangat gandrung pada negara Amerika Serikat, klik disini.
Lihat –klik- juga: Ronaldo's trip to Kosovo.

September 27, 1999, Brazilian football star Ronaldo flew into Kosovo on Monday on a mission for Roman Catholic charity Caritas-Belgium. Ronaldo is used to adoring fans, but his security arrangements rarely run to the armoured car he was given in the southern Kosovan city of Djakovica.

He was given a hero's welcome from the ethnic Albanian crowd as he prepared to hand over a donation to a local school damaged in the conflict.

Umumnya masyarakat Kosovo dikenal sebagai Muslim KTP jika dibandingkan dengan para Muslim tulen yg fundamentalis. Pertanyaan yang sekarang muncul adalah berapa lama keadaan ini masih akan terus berlangsung. Alasan pertanyaan ini bukan karena kelompok Jihadis Muslim telah mulai mengambil alih keadaan, seperti usaha propaganda keji yang dimotori oleh para narapidana warga Muslim Serbia. Bahkan sebaliknya, tampaknya Islam semakin ditinggalkan masyarakat Kosovo.

Contohnya, minggu lalu saja, sejumlah 32 orang dari keluarga yang sama, yakni keluarga Sopi dari Lapushnik, murtad dan lalu menjadi pemeluk agama Katolik. Lapushnik merupakan desa di bagian Timur Laut Kosovo, di daerah yang sama dengan Drenica yang merupakan pusat Tentara Pembebasan Kosovo (Kosovo Liberation Army (KLA)) yang menentang kekuasaan Beograd. Juru bicara keluarga, yakni Ismet Sopi, menyatakan pada wartawan lokal bahwa banyak orang yang murtad dan beralih ke Katolik, “mungkin jumlah berkisar antara 320 sampai 3.200 orang.”

Sewaktu mengunjungi ibukota, Pristina, akhir minggu ini, kami mendapatkan sebuah keluarga beranggotakan 6 orang yg baru-baru ini telah diterima sebagai anggota jemaat gereja setelah persiapan selama setahun. Tiba-tiba saja rencana mendirikan katedral di tengah-tengah kota Pristina bukan menjadi hal yang aneh lagi. Data lama menunjukkan bahwa jumlah orang Katolik di Kosovo hanya sedikit: sekitar 6.000 Katolik di seluruh negara. Jika kecenderungan murtad akhir-akhir ini semakin menjalar, maka ini akan benar-benar mengubah wajah negara Kosovo.

Untuk memahami terjadinya gelombang murtad, maka perlu ditelaah sebab musababnya. Di awal tahun 1990-an, pada puncak ketegangan antara masyarakat mayoritas Albania di Kosovo dgn rejim Serbia-Milosevic, sudah terdengar perbincangan tentang murtad massal ke agama Kristen. Hal ini memang jelas merupakan impian Presiden terdahulu, Ibrahim Rugova, dan sekelompok kecil intelektual elit. Sikap ini merupakan reaksi atas pengalaman buruk masyarakat mayoritas Muslim Albania, terisolasi dari rejim Beograd dan juga dari negara-negara tetangga Eropa yang lamban menolong.

Saat ini, negara Kosovo secara resmi telah berdiri, meskipun untuk sementara waktu masih harus melalui birokrasi intenasional. Sama seperti masa lalu, di masa kini pun masyarakat Kosovo hanya menginginkan satu hal: tidak dianggap asing dari masyarakat lain, dan menjadi bagian dari masyarakat Barat, yakni menjadi anggota Persatuan Uni Eropa. Dengan beralih memeluk agama Kristen, Kosovo berusaha kembali kepada akar Eropa mereka yang asli yg telah dicabut oleh para penjajah asing (Muslim) dalam kurun waktu yang sangat lama. Dengan ini mereka berharap bisa menjadi anggota Persatuan Eropa.

Awalnya, masyarakat Albania memang masyarakat Kristen, sampai kekuasaan Ottoman menjajah daerah Balkan di abad ke 15 dan lima abad berikutnya. Mayoritas masyarakat Kristen adalah penganut Kristen Ortodox dgn masyarakat Kristen Katolik sbg minoritas. Sebagian besar lalu terpaksa memeluk Islam karena berbagai alasan – misalnya ekonomi, sosial, atau spiritual – tapi banyak yang tetap melalukan ibadah agama Kristen sebagai tradisi keluarga. Jadi mengapa sekarang banyak yang kembali menggali tradisi agama Kristen? Mengapa sekarang banyak “Kristen-kripto (para Kristen tersembunyi),” begitu mereka disebut, yang muncul secara terang-terangan?

Pastor Lush Gjergj, seorang penulis riwayat hidup Ibu Theresa dan tokoh utama dalam dunia Katolik Albania, menjelaskan: banyaknya Muslim murtad adalah utk mencari kembali identitas sosok orang Eropa dengan identitas Kristen yang memang sejak dulu telah berakar dalam.

Orang-orang yang beralih agama ini memang sudah lama menjadi Kristen, tapi dulu mereka tidak bisa menyatakan hal ini karena terkekang. Di rumah mereka, masih terdapat banyak sisa-sisa jejak Kristiani, seperti lilin, cara berdoa, atau salib, yang diwariskan nenek moyang mereka. Mereka ingat bagaimana para peziarah datang ke gereja Letnika setiap tanggal 15 Agustus (Assumption Day). Mereka bukan mundur ke belakang, tapi berhubungan kembali dengan akar sejarah jati diri mereka.”

Meskipun begitu, ada kecurigaan bahwa murtad massal ini adalah karena Kosovo ingin memenuhi semua persyaratan untuk menjadi bagian dari masyarakat Eropa dan Euro-Atlantik.

Pemerintah Kosovo baru saja mengumumkan penghapusan hari raya tersuci masyarakat Albania di seluruh dunia, yakni hari bendera 28 November dari daftar hari raya resmi nasional. Dalam rangka berusaha menyatu dengan Eropa, pemerintah merayakan tanggal 9 Mei sebagai hari persatuan Eropa. Lalu apakah Ramadhan juga akan diganti jadi perayaan Natal?

Tunggu dulu, kata Arthur Krasniqi, pemimpin masyarakat Protestan evangelis di Pristina. Krasniqi tidak meragukan niat tulus Muslim murtad ke Kristen. “Masyarakat Albania sebenarnya tidak beragama sama sekali. Jadi jika mereka beralih iman, hal ini merupakan niat tulus karena mereka bebas memilih agama apapun.” Krasniqi mengakui adanya akar Kristen dalam masyarakat Albania di Kosovo dan di manapun, tapi dia bersikap hati-hati terhadap berbagai kejadian murtad massal akhir-akhir ini. Dia merasa khawatir akan reaksi masyarakat Muslim terhadap permintaan mendirikan katedral Katolik di Lapushnik.

Mullah setempat menyebut permintaan seperti itu sebagai “tindakan menantang semua masyarakat daerah,” yang tidak memiliki anggota masyarakat Katolik.

Menurut Krasniqi, murtad massal tidak akan berlangsung cepat di berbagai daerah. Hal ini bukan karena Muslim Albania adalah Muslim radikal, tapi karena sejauh ini mereka hanya mentolerir kaum minoritas Kristen dan BELUM tahu bgmn caranya menghormati mereka.

(Translator: Adadeh)

Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=25264

ENGLISH VERSION